🍉 ... Ada keluarga yang mewariskan tanah luas dan emas. Ada pula yang mewariskan gelar dan kekuasaan. Namun, ada pula yang mewariskan sesuatu yang jauh lebih mulia.
Apakah itu? Ini tentang satu keluarga di Madinah yang mewariskan sesuatu yang sangat langka: kemurahan hati yang mengalir dari kakek, ke ayah, hingga ke anak.
Sampai-sampai Rasulullah ﷺ menyebut kedermawanan sebagai karakter khas keluarga ini. Mari berkenalan dengan sang pewarisnya, yaitu Qais bin Sa'ad bin 'Ubadah.
*01 – DARAH KEDERMAWANAN YANG MENGALIR TIGA GENERASI*
Qais bin Sa'ad adalah putra dari tokoh terkemuka Anshar dari suku Khazraj, yaitu Sa'ad bin 'Ubadah. Namun untuk memahami kemuliaan Qais, kita harus menengok jauh ke atas silsilahnya.
Kakek buyutnya, Dulaim bin Haritsah, dikenal sebagai dermawan legendaris bangsa Arab. Begitu masyhur kemurahannya, sampai beredar ungkapan di kalangan orang Yatsrib:
"Siapa pun yang menyukai daging tebal, datanglah ke rumah Dulaim bin Haritsah." Bayangkan saja, tiada siang atau malam berlalu kecuali rumahnya sibuk menjamu tamu.
Tradisi luhur ini diteruskan oleh sang ayah, Sa'ad bin 'Ubadah, salah seorang pemuka kaum Anshar yang tersohor kedermawanannya.
Maka, ketika Qais bin 'Ubadah tumbuh dengan membawa sifat yang sama, itu bukanlah kebetulan. Sejatinya, ia mewarisi kemuliaan yang telah dipupuk dalam keluarganya lintas generasi.
Itulah mengapa, Rasulullah ﷺ sampai bersabda bahwa kedermawanan adalah karakter atau ciri khas dari keluarga ini.
*02 – SEPULUH TAHUN DI SISI RASULULLAH ﷺ*
Ketika Nabi ﷺ berhijrah ke Madinah, usia Qais masih sangat belia. Ayahnya mempersembahkan Qais untuk berkhidmat kepada Nabi ﷺ. Dan, beliau menerimanya dengan senang hati.
Selama sepuluh tahun Qais mendampingi Rasulullah ﷺ. Ia menyiapkan air wudhu dan menjadi ajudan setia dalam berbagai keadaan.
Anas bin Malik ra. menggambarkan kedudukannya dengan indah, bahwa posisi Qais di sisi Rasulullah ﷺ laksana seorang perwira tinggi di samping seorang pemimpin.
Tidak hanya itu, Qais bin Sa'ad pun bukan sekadar dermawan. Ia dikenal sebagai sosok cerdas, pemberani, bertubuh besar dan kuat.
Kecerdikannya di atas rata-rata, sehingga ia pernah berujar bahwa seandainya bukan karena Islam, ia sanggup menyusun tipu daya yang tidak tertandingi bangsa Arab.
Namun, Islam mengubah kecerdikan itu menjadi sifat bijaksana dan mengarahkannya kepada jalan yang lurus.
*03 – ABU BAKAR DAN UMAR PUN KAGUM*
Inilah puncak keistimewaan Qais. Kedermawanannya begitu luar biasa sehingga membuat dua sahabat terdekat Rasulullah ﷺ pun terkagum-kagum.
Bagaimana tidak, Qais memiliki kebiasaan yang menakjubkan. Ia berkeliling ke rumah-rumah di Madinah untuk menawarkan pinjaman kepada yang membutuhkan.
Namun, hal yang lebih menakjubkan, ketika tiba waktu pelunasan, ia justru enggan menerima pembayaran. Ia membiarkan utang itu, bahkan tidak jarang ia merelakannya menjadi sedekah.
Saking royal dan murah hatinya, Qais tidak ragu berhutang demi memenuhi kebutuhan orang lain. Melihat ini, Abu Bakar dan Umar sampai berkomentar:
"Jika kita biarkan pemuda ini dengan kemurahan hatinya, niscaya ia akan menghabiskan harta ayahnya." (Diriwayatkan Ibnu 'Asakir)
Di luar dugaan, ketika ayahandanya mendengar kekhawatiran itu, ia tidak setuju. Sa'ad bin 'Ubadah justru bangga terhadap kedermawanan putranya.
Dukungan sang ayah ini membuktikan satu hal: kemurahan hati yang ia tanamkan benar-benar telah mengakar di dalam dada Qais.
*04 – CINTA YANG DIUJI SAAT SAKIT*
Ada satu kisah yang menyentuh. Suatu hari Qais jatuh sakit. Anehnya, teman-teman yang biasanya berduyun-duyun menjenguk kali ini sepi. Baru satu dua orang yang datang.
Setelah diselidiki, ternyata banyak sahabatnya merasa malu untuk datang, sebab mereka masih memiliki utang kepada Qais dan belum mampu melunasinya.
Apa yang dilakukan Qais mendengar hal itu? Ia justru mengumumkan bahwa seluruh utang kepadanya ia bebaskan dan ia halalkan.
Baginya, kesembuhan silaturahmi dan pertemuan dengan saudara-saudaranya jauh lebih berharga daripada tumpukan harta yang dipinjamkan.
*05 – WARISAN YANG LAYAK DITERUSKAN*
Dari kisah tiga generasi dermawan ini, ada pelajaran berharga bagi kita. Kedermawanan ternyata bisa menjadi warisan keluarga, bukan lewat gen, melainkan lewat teladan yang ditanamkan sejak dini.
Anak-anak belajar memberi bukan dari nasihat, melainkan dari melihat orangtuanya memberi.
Maka, siapa yang ingin mewariskan sesuatu yang abadi kepada anak keturunan, wariskanlah kemurahan hati. Sebab harta akan habis, jabatan akan sirna, namun jejak kebaikan akan terus mengalir dan dikenang.
📚 … Disarikan dari *Siyar A'lam An-Nubala'* (Imam Adz-Dzahabi), *Shuwar min Hayatish Shahabah* (Dr. Abdurrahman Ra'fat Al-Basya), *Ensiklopedi Sahabat* (Syeikh Mahmud Al-Mishri), *Rijal Haular Rasul* (Khalid Muhammad Khalid).
Inspirasi Terpopuler