💙 ... Jika Allah ﷻ Maha Mengetahui segala kebutuhan dan harapan kita, bahkan lebih tahu daripada diri kita sendiri, mengapa Dia masih memerintahkan kita untuk berdoa?
Pertanyaan ini menyimpan jawaban yang begitu mendalam, sebuah rahasia yang justru menunjukkan betapa besar kasih sayang Allah ﷻ kepada hamba-hamba-Nya.
*01 – ALLAH AL-MUJIB, ZAT YANG MAHA MENGABULKAN*
Salah satu nama Allah ﷻ adalah Al-Mujib, Yang Maha Mengabulkan. Kata ini berasal dari akar kata ajaba, yang bermakna menjawab atau membalas sebuah permintaan.
Kata ini pun bermakna memotong, seolah-olah Allah ﷻ memotong sebuah permintaan dengan pengabulan, bahkan sebelum permintaan itu benar-benar tuntas diucapkan.
Dalam Al-Quran, nama Al-Mujib disebutkan dalam surat Hud, 11:61, sementara bentuk jamaknya, mujibun, tercantum dalam surat Ash-Shaffat, 37:75.
Karena sifat inilah, Allah ﷻ senantiasa menganjurkan hamba-hamba-Nya untuk berdoa, sebagaimana firman-Nya dalam QS Al-Baqarah, 2:186:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ
Wa idza sa-alaka 'ibadi 'anni fa inni qaribun ujibu da'watad da'i idza da'an
"Dan apabila hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah, bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia memohon kepada-Ku."
*02 – EMPAT ALASAN DI BALIK PERINTAH BERDOA*
Walaupun Allah ﷻ sudah mengetahui segala kebutuhan hamba-Nya, ada empat hikmah besar mengapa Dia dan Rasul-Nya tetap memerintahkan manusia untuk berdoa.
*Pertama*, doa memperjelas kedudukan kita sebagai hamba dan Allah ﷻ sebagai Al-Khaliq.
Memahami hakikat diri sebagai hamba akan menumbuhkan sikap rendah hati, sebab tidak ada daya dan kekuatan kecuali atas kehendak-Nya.
Ibnu Atha'illah pernah berkata, "Hendaknya doa permintaanmu semata-mata untuk menunjukkan kehambaanmu dan menunaikan kewajiban terhadap kemuliaan Tuhanmu."
Seorang yang rajin berdoa dengan penghayatan seperti ini akan terhindar dari sikap sombong, malas, dan bergantung kepada selain Allah ﷻ.
*Kedua*, doa adalah sarana zikir.
Allah ﷻ memerintahkan hamba-Nya berdoa agar senantiasa mengingat-Nya, sebab mengingat Allah ﷻ adalah rezeki yang tidak ternilai harganya.
Ketenangan hati, kunci dari segala kebahagiaan, hanya bisa diraih dengan mengingat-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam surat Ar-Ra'd, 13:28:
"Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenang dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenang."
*Ketiga*, doa adalah target.
Hidup akan lebih terarah jika memiliki tujuan yang jelas. Doa, pada hakikatnya, adalah target yang ingin diraih. Ketika seseorang berdoa memohon kelunasan utang misalnya, itulah pula targetnya.
Namun, target tidak akan pernah tercapai tanpa diiringi usaha nyata. Doa ibarat pupuk, sedangkan ikhtiar adalah bibitnya.
Tidak mungkin ada panen tanpa ada bibit yang ditebar, sebagaimana doa yang baik selalu berjalan beriringan dengan ikhtiar yang maksimal.
*Keempat*, doa adalah penyemangat.
Ketika seseorang berdoa, di dalamnya tersimpan harapan, dan harapan akan melahirkan semangat. Dan, semangat akan menentukan berhasil tidaknya seseorang dalam meraih tujuannya.
Pertolongan Allah ﷻ hanya akan menghampiri mereka yang bersungguh-sungguh. Karena, sebab semakin serius seorang hamba kepada-Nya, semakin besar pula pertolongan yang akan diturunkan.
*03 – DOA SEBAGAI INTI DARI IBADAH*
Selain empat hikmah tersebut, ada satu hal penting lain yang menegaskan betapa istimewanya doa dalam pandangan Islam. Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ
"Ad-du'au huwal 'ibadah. Doa adalah inti dari ibadah." (HR At-Tirmidzi)
Hadits ini menegaskan bahwa doa bukan sekadar permohonan biasa, melainkan bentuk penghambaan yang paling murni kepada Allah ﷻ. Mengapa?
Karena, di dalamnya terkandung pengakuan akan kelemahan diri sekaligus keyakinan penuh akan kekuasaan-Nya.
*04 – PELAJARAN YANG TERSISA*
Perintah Allah ﷻ untuk berdoa bukanlah karena Dia membutuhkan informasi tentang keadaan hamba-Nya, melainkan karena doa itu sendiri menyimpan banyak kebaikan bagi manusia.
Maka, jangan pernah berhenti berdoa, sebab dalam setiap untaian doa yang dipanjatkan, tersimpan jalan menuju ketenangan hati dan kedekatan dengan Allah Al-Mujib.
📚 … Disarikan dari *Menyingkap Tabir Ilahi* (Prof. Dr. M. Quraish Shihab), *Al-Hikam* (Ibnu Atha'illah) dan *Asma'ul Husna* untuk *Hidup Penuh Makna* (KH Abdullah Gymnastiar)
Inspirasi Terpopuler