💧... Ada pemberian yang datangnya justru pada saat paling rapuh: ketika ajal sudah dekat dan tubuh sudah tidak berdaya. Namun, pemberian itu justru menjadi hadiah termanis sepanjang usia.
Rasulullah ï·º menyebutnya sebagai ""madu"" yang Allah Azza wa Jalla hadiahkan khusus kepada para hamba yang dicintai-Nya.
Bukan berupa harta atau kesembuhan, melainkan sesuatu yang jauh lebih berharga, taufik untuk beramal saleh di penghujung usia.
*01 – MADU YANG BUKAN SEMBARANG MADU*
Suatu ketika, Rasulullah ï·º bersabda, ""Apabila Allah ï·» menghendaki kebaikan kepada hamba-Nya, niscaya Dia akan memberinya madu.""
Sontak para sahabat penasaran dan bertanya, ""Wahai Rasulullah, apa maksud dari memberinya madu?""
Beliau pun menjelaskan, ""Allah membukakan taufik baginya untuk beramal saleh menjelang kematiannya, sehingga orang-orang di sekitarnya ridha kepadanya."" (Shahih Al-Jami', No. 304)
Betapa indahnya perumpamaan ini. Madu dikenal sebagai sesuatu yang manis dan menyembuhkan, dan begitu pula taufik untuk beramal saleh di akhir hayat.
Ia menjadi obat penenang bagi hati yang gelisah menghadapi kematian, sekaligus menjadi kabar gembira bahwa Allah Ta'ala sedang mencintai hamba tersebut.
*02 – SEDEKAH SEBAGAI PEMBUKA KEDEKATAN SEBELUM KUNJUNGAN*
Dalam Shifatush Shafwah, dikisahkan tentang seorang saleh bernama Rabi' bin Abi Rasyid. Ia menyaksikan seseorang yang tengah sakit membagikan hartanya kepada kerabat dan tetangganya.
Rabi' pun berkomentar, ""Pemberian adalah pembuka kedekatan sebelum kunjungan.""
Beberapa hari kemudian, orang yang sakit itu meninggal dunia. Rabi' bin Abi Rasyid menangis mendengarnya, lalu berkata:
""Demi Allah, orang tersebut telah mempersiapkan bekal dengan baik menghadapi kematiannya. Ia juga mengetahui bahwa tidak ada harta yang bermanfaat baginya selain yang telah ia sedekahkan.""
Makna ungkapan tersebut dengan gamblang. Ketika seseorang hendak mendatangi suatu kaum, ia biasa mengawali kunjungannya dengan hadiah agar lebih mudah diterima.
Begitu pula ketika seorang hamba hendak bertemu Allah ï·», ia mengawalinya dengan sedekah dan amal-amal yang dicintai-Nya untuk memudahkan baginya saat memasuki alam akhirat.
Maka, beruntunglah seseorang yang diberi taufik untuk beramal saleh di akhir usianya. Dengan wasilah amal tersebut, ia meraih harta termahal dalam hidup, yaitu husnul khatimah, akhir kehidupan yang baik.
*03 – SETAHUN SEBELUM AJAL, RAHASIA YANG TERSEMBUNYI*
Al-Imam Syamsuddin Al-Qurthubi, mufassir terkemuka asal Andalusia, dalam kitabnya At-Tadzkirah menghimpun sebuah riwayat dari Aisyah ra. yang sangat mendalam maknanya.
Disebutkan bahwa apabila Allah ﷻ menghendaki kebaikan kepada seseorang, setahun sebelum kematiannya …
Allah ï·» mengutus seorang malaikat untuk membimbing dan memberinya taufik, sehingga orang-orang di sekelilingnya berkata, ""Fulan telah meninggal dalam keadaan terbaik.""
Ketika ajal menjemput dan ia melihat pahala amalnya, ruhnya pun sangat rindu untuk bertemu dengan Allah, dan Allah ï·» pun rindu untuk bertemu dengannya.
Sebaliknya, apabila Allah ï·» menghendaki keburukan bagi seseorang, setahun sebelum kematiannya, Dia membiarkan setan mendatangi dan menyesatkannya, sehingga orang-orang berkata:
""Fulan mati dalam keadaan terburuk.""
Saat ajal tiba dan ia melihat azab yang akan menimpanya, hatinya dipenuhi kegelisahan. Ia pun enggan bertemu dengan Allah ï·» dan Allah pun enggan bertemu dengannya. (HR Ahmad, 6/218)
*04 – APA PELAJARAN YANG TERSISA?*
Kisah-kisah ini mengajarkan bahwa husnul khatimah bukanlah keberuntungan yang datang tiba-tiba, melainkan buah dari benih yang ditanam jauh sebelum kematian tiba.
Taufik untuk bersedekah, menjaga amal saleh, dan mendekatkan diri kepada Allah ï·» pada masa sehat dan lapang, itulah yang kelak menjadi ""madu"" penawar kegelisahan di penghujung usia.
Maka, sudah sepatutnya setiap orang senantiasa memohon kepada-Nya agar dianugerahkan husnul khatimah, sembari terus mengumpulkan bekal amal saleh selagi masih diberi kesempatan hidup di dunia.
📚 … Disarikan dari *Shifatush Shafwah* (Ibnul Jauzi), *At-Tadzkirah fi Ahwal Al-Mauta wa Umuril Akhirah* (Imam Al-Qurthubi) dan lainnya."
Inspirasi Terpopuler