🌀 ... Ada seorang penguasa Mesir, berdiri di hadapan saudara-saudaranya yang pernah menzaliminya. Ini momen tepat untuk membalas dendam, atau setidaknya menunjukkan betapa tinggi kedudukannya sekarang.
Namun, yang keluar dari mulutnya hanyalah kalimat sederhana, "Akulah Yusuf." Tidak ada gelar, tidak ada kemegahan yang disebutkan, hanya sebuah pengakuan diri yang jujur dan rendah hati.
Dari sinilah, Al-Quran mengajarkan kita bahwa kemuliaan sejati tidak pernah butuh diteriakkan dan dipaksa untuk diviralkan.
*01 – MENGAKUI KEUNGGULAN ORANG LAIN, BUKAN AIB YANG PERLU DITUTUPI*
Ada pelajaran dari Nabi Musa as. Ketika diperintahkan untuk menghadapi Firaun, ia justru dengan terbuka mengakui bahwa saudaranya, Nabi Harun as., memiliki kefasihan bicara yang lebih baik darinya.
Musa meminta agar Harun turut diutus sebagai pendamping, sebagaimana termaktub dalam surat Al-Qashash, 28:34:
وَأَخِي هَارُونُ هُوَ أَفْصَحُ مِنِّي لِسَانًا فَأَرْسِلْهُ مَعِيَ رِدْءًا يُصَدِّقُنِي إِنِّي أَخَافُ أَنْ يُكَذِّبُونِ
_"Dan saudaraku Harun, dia lebih fasih lidahnya daripadaku, maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkan perkataanku, sesungguhnya aku khawatir mereka akan mendustakanku."_
Bandingkan sikap ini dengan Iblis, yang ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa ada makhluk lain yang lebih mulia darinya, justru menjawab dengan penuh kesombongan:
_"Aku lebih baik daripadanya. Engkau ciptakan aku dari api, sedang dia Engkau ciptakan dari tanah"_ (QS Al-A'raf, 7:12).
Dua sikap yang bertolak belakang inilah yang menjadi cermin, mengakui keunggulan orang lain bukanlah kelemahan, melainkan tanda kedewasaan iman.
*02 – MEMAAFKAN SAAT MEMILIKI KUASA UNTUK MEMBALAS*
Pelajaran kedua datang dari kisah Nabi Yusuf as., seorang yang pernah dikhianati oleh saudara-saudaranya, dibuang ke dalam sumur, dan dipisahkan dari ayahnya bertahun-tahun lamanya.
Namun ketika kekuasaan berada di tangannya sebagai pembesar Mesir, dan saudaranya datang memohon pertolongan tanpa mengetahui identitasnya, Yusuf justru memilih memaafkan.
لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ يَغْفِرُ اللَّهُ لَكُمْ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ
_"Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni kamu, dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang."_ (QS Yusuf, 12:92)
Memaafkan memang mudah diucapkan ketika kita tidak memiliki kuasa untuk membalas. Namun, memaafkan menjadi ujian berat ketika kesempatan membalas terbuka lebar di hadapan kita.
*03 – TAMPIL APA ADANYA TANPA PERLU MENYEBUTKAN PENCAPAIAN*
Pelajaran ketiga, yaitu ketika Nabi Yusuf memperkenalkan dirinya kepada para saudaranya saat dirinya tengah berada di puncak kejayaan.
Ketika itu, ia bisa saja memperkenalkan diri sebagai pembesar negeri Mesir dengan segala kekuasaannya. Namun, yang keluar hanyalah pengakuan yang sangat jujur dan sederhana.
قَالُوا أَإِنَّكَ لَأَنْتَ يُوسُفُ قَالَ أَنَا يُوسُفُ وَهَذَا أَخِي قَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا
_"Mereka berkata, 'Apakah kamu ini benar-benar Yusuf?' Yusuf menjawab, 'Akulah Yusuf dan ini saudaraku. Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami'."_ (QS Yusuf, 12:90)
Orang mulia tidak perlu membesar-besarkan pangkat, jabatan, maupun pencapaian duniawinya. Kemuliaan sejati akan tetap terpancar dengan sendirinya, tanpa perlu diumumkan berulang kali.
*04 – BERANI BERTANGGUNG JAWAB, TIDAK MENCARI KAMBING HITAM*
Pelajaran terakhir datang dari Nabi Adam as. dan Nabi Musa as. Ketika Nabi Adam as. tergoda bujukan iblis hingga harus turun ke bumi, ia tidak sibuk menyalahkan pihak lain.
Ia justru segera mengakui kesalahannya sendiri dan memohon ampunan Allah ﷻ sebagaimana dalam surat Al-A'raf, 7:23:
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
_"Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi."_
Sikap yang sama juga ditunjukkan Nabi Musa as. yaitu ketika dirinya tanpa sengaja menyebabkan kematian seorang Qibthi (penduduk asli negeri Mesir).
Alih-alih mencari pembenaran, ia segera bersimpuh memohon ampunan, sebagaimana dalam surat Al-Qashash, 28:16:
رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي فَغَفَرَ لَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
_"Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri, karena itu ampunilah aku. Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."_
*05 – PELAJARAN YANG TERSISA*
Empat sikap ini, mengakui keunggulan orang lain, memaafkan saat berkuasa, tampil apa adanya, dan berani bertanggung jawab memiliki satu benang, yaitu kerendahan hati.
Inilah sikap yang tidak lahir dari kelemahan, melainkan dari kekuatan iman yang begitu kokoh, hingga seseorang tidak lagi butuh pengakuan manusia untuk merasa berharga di hadapan Allah ﷻ.
Barangkali, di sinilah pelajaran terbesar bagi kita, bahwa semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin ia seharusnya semakin merunduk, sebagaimana padi yang berisi.
📚 … Disarikan dari *Tafsir Al-Quran Al-Azhim* (Imam Ibnu Katsir), *Tafsir As-Sa'di* (Syaikh Abdurrahman As-Sa'di), dan sumber lainnya.
Inspirasi Terpopuler