🩷 ... Ada amalan yang tidak memerlukan tenaga, tidak menguras harta benda, dan tidak terikat tempat maupun waktu. Ia dapat dibaca kapan saja dan di mana saja.
Dan, hebatnya lagi, pahalanya dahsyat: setara membebaskan budak, menghapus dosa, dan menjadi benteng dari setan. Amalan itu hanya satu kalimat: Lā ilāha illallāh.
Kalimat ini sangat ringan di lisan, tetapi berat di timbangan, dan begitu dicintai Allah ﷻ sehingga Dia sendiri yang menjawabnya.
*01 – INTI DARI SELURUH AJARAN*
Tahlil bukan sekadar zikir. Ia adalah fondasi iman, ruh seluruh ibadah, dan pernyataan total bahwa tidak ada yang layak disembah, ditaati dan dijadikan sandaran hidup selain Allah ﷻ.
Pada hari Arafah, Rasulullah ﷺ pernah bersabda bahwa sebaik-baik ucapan yang beliau dan para nabi sebelumnya ucapkan adalah:
لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
_Lā ilāha illallāhu waḥdahu lā syarīka lah, lahul-mulku wa lahul-ḥamdu wa huwa ‘alā kulli syai’in qadīr._
"Tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nyalah segala kerajaan dan segala puji, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu." (HR At-Tirmidzi, No. 3585)
*02 – SERATUS KALI YANG MENJAGA SEHARI PENUH*
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa siapa yang mengucapkan kalimat tersebut seratus kali dalam sehari, maka:
"Ia seperti memerdekakan sepuluh budak, dicatat baginya seratus kebaikan, dihapuskan seratus dosa, dan menjadi pelindung dari setan hingga petang.
Tidak ada seorang pun yang membawa amalan lebih utama daripadanya, kecuali orang yang mengamalkan lebih banyak lagi. (HR Al-Bukhari No. 3293 dan Muslim No. 2691)
Perhatikanlah, bahwa saat mengucapkan kalimat ini, kita:
* Tidak disyaratkan tempat dan kondisi khusus.
* Tidak harus dalam keadaan duduk khusyuk di masjid.
* Bisa diucapkan sambil berjalan, berkendara, atau aktivitas lain.
Namun, zikir ini dampaknya mengawal seluruh hari, dilipatgandakan pahala, dihapuskan dosa dan dijaga dari tipu daya setan.
*03 – MENGAPA YANG RINGAN BERNILAI BEGITU BESAR?*
Para ulama menjelaskan bahwa zikir, terutama tahlil, adalah amal hati sebelum amal lisan.
Ketika seseorang bertahlil, ia memperbarui tauhidnya, melepaskan ketergantungan pada selain Allah ﷻ dan membersihkan hati dari kesombongan serta rasa cukup diri.
Sesungguhnya, Allah ﷻ menilai kejujuran hati, bukan beratnya gerakan fisik. Dari sinilah zikir menjadi penjaga jiwa. Bahkan, ia menjadi penentu bagi diridhai tidaknya kematian seseorang.
Rasulullah ﷺ bersabda, "Amalan yang paling aku cintai adalah engkau meninggal dunia sementara lisanmu basah dengan zikir kepada Allah." (HR Ath-Thabrani dan Ibnu Hibban)
*04 – KETIKA ALLAH ﷻ MENJAWAB HAMBA-NYA*
Abu Dzar Al-Ghiffari pernah bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah lā ilāha illallāh termasuk kebaikan?"
Beliau menjawab, "Ia adalah kebaikan paling utama, yang menghapus dosa dan kesalahan." (Risalah Kalimatul Ikhlash, Imam Ibnu Rajab)
Lebih menyentuh lagi, ada percakapan yang terjadi antara hamba dan Rabbnya. Abu Hurairah dan Abu Sa'id Al-Khudri meriwayatkan sabda Nabi ﷺ bahwa …
Ketika seorang hamba mengucapkan "Lā ilāha illallāhu wallāhu akbar", Allah menjawab, "Benar hamba-Ku, tiada sesembahan selain Aku dan Akulah Yang Mahabesar."
Ketika ia mengucapkan "Lā ilāha illallāhu waḥdah", Allah ﷻ menjawab, "Benar hamba-Ku, tiada sesembahan selain hanya Aku."
Demikian pula ketika ia menyebut "lā syarīka lah", "lahul-mulku wa lahul-ḥamd", hingga "lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh", pada setiap kalimat Allah ﷻ meneguhkan, "Benar hamba-Ku."
Dalam riwayat itu, sebagian perawi menambahkan bahwa siapa yang diberi karunia mengucapkannya ketika meninggal dunia, api neraka tidak akan menyentuhnya. (HR Ibnu Majah)
*05 – PELAJARAN BESAR UNTUK KITA*
Betapa berharganya kalimat lā ilāha illallāhu yang bisa kita ulang-ulang sepanjang hari tanpa biaya dan tanpa lelah.
Siapa yang meyakini dan mendawamkannya, lalu diberi kemampuan mengucapkannya di akhir hayat, ia kembali kepada Allah ﷻ dengan ridha-Nya.
Mulailah dari hari ini, jadikan lisan basah dengan lā ilāha illallāh, sebab bisa jadi inilah kalimat terakhir yang menutup perjalanan kita.
📚 … Disarikan dari *345 Sunnah Nabawiyah* (Dr. Raghib As-Sirjani), *Al-'Ibadat Al-Qalbiyyah* (Dr. Muhammad Musa Al-Shareef), *Hadits Qudsi* (Imam An-Nawawi dan Imam Al-Qasthalani)
Inspirasi Terpopuler